Kamis, 21 Maret 2013

Dunia Fotografi


Memahami Konsep Eskposur
Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.
Bagi yang ingin “lulus  dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.
Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahayamasuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:
  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Memahami Aperture & Depth of Field
http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/2009/11/2432357976_37c2b9d202.jpg
Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.
Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.

aperture

Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.
aperture
Jadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.
Depth of Field
Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.
PICT0235_mdPICT0236_md
Untuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.
Konsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.



Memahami Shutter Speed
Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.
Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:
  • Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’
  • Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
  • Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization (dibahas dalam posting mendatang)
  • Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
  • Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
  • Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut. Coba perhatikan foto dibawah:

http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/4093575863_9ba39f1a07-thumb.jpg


http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/3170474588_d42432a885-thumb.jpg
Memahami Pengertian White Balance
Setiap pemilik kamera digital atau handphone kelas menengah yang dilengkapi kamera, paling tidak pernah menemui istilah white balance. Jadi apa itu white balance? Kenapa harus peduli?
Oke mari kita bahas dengan cara yang gampang dan aplikatif.
White balance adalah aspek penting dalam dunia fotografi dan berpengaruh pada hasil akhir foto. Alasan kenapa kita perlu memahami white balance adalah karena kita ingin warna foto kita seakurat mungkin. Jadi, white balance berpengaruh terhadap warna foto.
Agar lebih jelas silahkan lihat contoh foto dibawah ini:
http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/whiteblc-thumb1.jpg
Ketiga foto diatas adalah foto yang identik, bahkan ketiganya berasal hanya dari satu foto. Saya hanya mengubah setting white balance-nya dan hasilnya: ketiganya sangat berbeda warnanya. Foto A tampak sangat kebiruan, foto B terlihat cukup normal dan foto C terlihat kekuning-kuningan.
Perhatikan warna cahaya lampu neon dan lampu bohlam, beda bukan? itu karena masing-masing neon dan bohlam memiliki ”temperatur warna“ yang berbeda. Cahaya yang kekuningan (bohlam) disebut hangat sementara cahaya yang kebiruan (neon) disebut dingin.
Alasan kenapa kamera memerlukan setting white balance adalah karena kita memotret dalam kondisi pencahayaan yang berubah-rubah. Mata telanjang kita adalah alat yang super canggih dan mampu beradaptasi (menyeimbangkan) terhadap perubahan warna cahaya, jadi kertas putih dimanapun akan tampak putih bagi kita. Namun kamera tidaklah secanggih mata, karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang berbeda.
Jadi tujuan setting white balance adalah memerintahkan kamera agar mengenali temperatur sumber cahaya yang ada. Supaya yang putih terlihat putih, merah terlihat merah dan hijau terlihat hijau, atau dengan kata lain agar kamera merekam warna obyek secara akurat dalam kondisi pencahaayan apapun.


Bagaimana Cara Setting White Balance?

Setiap kamera memiliki cara setting yang berbeda, oleh karena itu anda harus merujuk pada buku manual jika memang sejauh ini belum menemukan caranya. Anda bisa mencari buku manual kamera
disini. Kalau anda masih bingung, gunakan mode auto white balance. Kamera mungkin tidak selalu benar namun paling tidak lebih banyak benar.
Preset

Anda juga bisa menggunakan preset jika memang tersedia di kamera anda:
  • Auto – kamera akan menebak temperatur warna berdasar program yang ditanam dari asalnya oleh pembuat kamera. Anda bisa menggunakannya pada kebanyakan situasi, namun tidak disetiap situasi (misal: memotret saat sunset/sunrise)
  • Tungsten – disimbolkan dengan ikon bohlam. Karena itu cocok digunakan saat anda memotret di ruangan dengan sumber cahaya bohlam.
  • Fluorescent – disimbolkan dengan ikon lampu neon, gunakan saat memotret di ruangan dengan pencahayaan lampu neon.
  • Daylight – biasanya dengan simbol matahari, gunakan saat berada di bawah sinar matahari
  • Cloudy – disimbolkan dengan awan, gunakan saat memotret di cuaca mendung
  • Flash – simbolnya kilat, jika anda menggunakan lampu flash (strobe) gunakan preset ini.
  • Shade – biasanya simbolnya rumah atau pohon, gunakan saat memotret dalam rumah (siang hari) atau anda berada di daerah bayangan – bukan sinar matahri langsung.
Cara Setting White Balance Secara Manual

Beberapa kamera, terutama
SLR dan prosumer, menyediakan fasilitas setting white balance manual. Setting manual adalah cara paling akurat jika kita bingung dengan temperatur warna sumber cahaya kita. Ini biasanya terjadi dalam pemotretan dengan sumber pencahayaan yang lebih kompleks (lebih dari satu jenis temperatur warna).
Kita bisa memanfaatkan kertas putih untuk tujuan ini. Set white balace mode di custom atau manual, kemudian arahkan kamera supaya membidik kertas ini kemudian jepret. Kamera akan mendeteksi warna putih dan menyimpan temperaturnya, akan muncul konfirmasi di layar LCD kamera kalau setting sudah OK.



5 Settingan Yang Harus Diperiksa Sebelum Mulai Memotret

Pernah tidak mengalami kejadian seperti ini?
  • Anda pulang dari acara memotret dan baru menyadari bahwa tadi di sepanjang pemotretan anda menggunakan ISO 1200, padahal acaranya dilaksanakan di siang bolong saat ISO 100 saja cukup
  • Anda baru menyadari bahwa anda menggunakan settingan white balance untuk mendung, padahal dari awal acaranya dilakukan diruangan dengan penerangan lampu neon
Kesalahan mendasar seperti ini membuat kita harus bersusah payah melakukan koreksi pada foto, kalau satu dua sih tidak masalah, kalau ratusan foto?. Okelah, mungkin dengan bantuan software kita bisa melakukan koreksi dengan relatif cepat, tapi bukankah lebih enak kalau kesalahan seperti ini bisa dihindari sejak awal.
Ada 5 hal mendasar yang harus selalu kita periksa sebelum jari kita memencet tombol shutter pertama kali. Silahkan:

1. Periksa Settingan White Balance Anda

Settingan White Balance
Gunakan settingan white balance yang sesuai dengan kondisi, atau kalau anda percaya dengan kamera, set white balance di posisi auto. Baca lebih jauh tentang white balance.

2. Hidupkan Highlight Warning Kamera

Highlight Warning
Tips ini ampuh untuk menghindari foto yang overexposure. Highlight warning adalah penanda yang muncul di layar LCD kamera saat ada bagian foto yang terbakar alias overexposed.

3. Periksa Setting ISO

Settingan ISO
Settingan ISO menentukan seberapa peka sensor kamera kita terhadap cahaya, makin tinggi angkanya semakin peka. Kalau tadi malam anda memotret pesta ulang tahun teman anda di restoran, pastinya ISO yang digunakan akan berbeda dengan setting ISO saat akan digunakan untuk memotret acara gerak jalan dikantor.

4. Periksa Setting Ukuran dan Format Foto

Ukuran foto
Memotret ribuan foto sekaligus, seperti misalnya saat anda hunting di kebun binatang, tentunya membutuhkan pengaturan ukuran foto yang berbeda dibandingkan memotret keluarga di studio misalnya, apalagi jika kartu memori yang anda miliki kapasitasnya berbeda.
Format foto, apakah harus memilih JPG atau RAW juga wajib dipertimbangkan sebelum sesi foto anda dimulai.

5. Periksa Settingan Mode Ekspposur Kamera

Setting mode eksposure
Dalam kamera SLR atau pocket, biasanya tersedia beberapa pilihan untuk mode eksposur yang anda pilih: Manual-Aperture Priority-Shutter Priority-Mode Program-dan beberapa preset bawaan kamera. Pastikan anda sudah mengetahui mode mana yang akan anda pilih.

1. Depth of field (ruang tajam)
Hal-hal yang mempengaruhi ruang tajam:
-Jarak pemotretan (jauh=luas, dekat=sempit)
-Bukaan diafragma (kecil=luas, besar=sempit)
-Jarak fokus lensa /focal length (tele=sempit, wide=luas, normal=bisa diatur)

http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik depth of field

2. Panning
-Panning adalah salah satu cara untuk memberikan kesan gerak pada foto.
-Ketika melakukan panning, anda harus mengikuti objek selama membidik.
-Hasil foto menjadikan objek menjadi relatif tajam dibandingkan dengan backgroundnya yang hampir sepenuhnya blur.
-Untuk mendapatkan foto panning secara maksimal; dengan speed rendah (8-60), dan pakailah tripod (kaki tiga).

http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik panning











3. Slow & stop action
-Slow action : salah satu teknik fotografi yang bertujuan memperlihatkan/menangkap gerakan objek. Biasanya digunakan kecepatan rendah, antara 1/30 sampai 1 detik
-Stop action : kebalikan dari slow, yaitu teknik fotografi untuk bertujuan membekukan gerak objek. Biasanya digunakan kecepatan tinggi, antara 1/125 sampai 1/4000 atau lebih.

http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Data teknis:
-Kamera : Nikon FM10
-Lensa : 35 – 70 mm
-Speed : 8
-Diafragma : 3,5
-ASA : 200
-Lokasi : TBS
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik slow action

Kamera : Canon 30D, speed : 10, diapragma : 5,6 ASA: 1600
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik stop action

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 105 mm Nikkor D
-Speed : 125 (with soft box)
-Diafragma : 16
-ASA : 200

4. Zooming
-Zooming adalah teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa.
-Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
-Untuk mendapatkan kesan gerak, anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik.
-Untuk mendapatkan foto zooming secara maksimal, pakailah tripod (kaki tiga)

Data teknis:
-Kamera : Nikon D100 Digital
-Lensa : 28 – 80 Nikkor D
-Speed : 5 (with flash)
-Diafragma : 3.5
-ASA : 400
-White balance : flash
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik zooming








5. Bulb
-Kecepatan rana dapat diatur sesuai dengan waktu yang kita inginkan.
-Teknik ini dilakukan dengan menahan tombol pelepas rana dengan lebih lama.
-Untuk mendapatkan hasil foto bulb secara maksimal, dapat digunakan kabel release dan tripod.
-Misal, kita mempergunakan kecepatan 30 detik sampai habis waktu perekaman cahaya.
http://hermawayne.blogspot.com
Contoh foto dengan teknik bulb


Dunia Fotografi


Rahasia Membuat Foto HEBAT!!!

Dunia Fotografi - Hampir setiap orang yang menenteng sebuah kamera pasti menginginkan membuat sebuah foto yang membuat orang lain mengucapkan: "Wow! Foto yang bagus!", tetapi sayangnya hanya beberapa orang yang berhasil mendapatkannya. Kenapa? Mungkin karena tidak banyak orang yang mengetahui apa sebenarnya yang membuat sebuah foto itu bagus menurut kebanyakan orang. Berikut ini adalah beberapa faktor yang membuat sebuah foto menjadi luar biasa.

Lightroom Preset Photography


1. Foto bagus adalah yang terkomposisi dengan benar - Banyak sekali buku maupun artikel yang mengulas tentang komposisi dalam fotografi, dan memang sebaikna Sobat menyisihkan waktu membaca apa yang diulas didalamnya. Untuk sementara beriku ini adalah beberapa tips yang layak untuk diingat:
  • Mendekatlah ke subyek foto. Sebagai contoh jika Sobat melihat sebuah bunga mawar yang terlihat menarik dengan embun pagi di kelopak bunganya, maka mendekatlah pada bunga tersebut. Semak-semak yang ada di sekelilingnya bisa menjadi pengalih perhatian (distraction). Contoh yang lain: Jika Sobat sedang memotret wajah kegemberiaan dari seorang anak kecil ketika memenangkan sebuah perlombaan sepak bola, maka tunjukkan sedikit lapangan bola di belakang mereka sehingga penikmat foto bisa menggambarkan secara penuh. Gambar tersebut bukan tentang seorang anak yang bahagia, melainkan tentang seorang anak yang memenangkan sebuah pertandingan sepakbola, tunjukkan hal tersebut pada penikmat foto kalian.
  • Framing. Jika Sobat memotret sebuah landscape, cobalah gunakan cabang pepohonan sebagai foreground. Sobat juga bisa menggunakan framing ketika memotret orang, sebagai contoh Sobat bisa melakakun framing pada sekelompok anak kecil yang bermain di taman menggunakan ayunan sebagai foreground. Cobalah sekreatif mungkin.
  • Gunakan Rule of Thirds. Percayalah komposisi ini mudah untuk dilakukan, bayangkanlah tiga garis horisontal yang melintang pada foto kalian, dan bayangkan juga tiga garis vertikal pada foto yang salam. Titik singgung antara garis-garis tersebut merupakan bagian terpenting dimana kalian meletakkan subyek dalam foto kalian. Cobalah memotret menggunakan prinsip komposisi ini, dan cobalah juga untuk meletakkan subyek ditengah-tengah dan lihatlah bagaimana perbedaannya.
2. Foto bagus adalah foto yang memiliki exposure yang pas - Foto yang memilikiexposure buruk tidak akan pernah menjadi foto yang hebat. Meskipun anda mengolahnya dengan perangkat editing gambar sekalipun tidak akan memberikan hasil yang bagus dibandingkan foto yang memiliki exposure yang benar. Luangkan waktu untuk mempelajari bagaimana menggunakan metering pada kamera digital kalian.

3. Foto bagus bisa memainkan perasaan - Sebuah foto yang bagus mampu membangkitkan emosi, dari tertawa melihat foto kucing konyol yang terjerat tali sampi perasaan sedih dan ngeri ketika melihat foto korban perang. Foto setidaknya harus membangkitkan perasaan yang kuat pada penikmat foto, jadi sebelum kita menekan tombol shutter, tanyakan pada diri Sobat sendiri emosi apa yang ingin kalian hadirkan pada foto tersebut. Identifikasikan perasaan sebelum Sobat memotret, dan secara otomatis foto-foto kalian akan mengalami peningkatan.

4. Foto bagus adalah yang bercerita - Pertama mendengar hal ini mungkin akan sedikit susah mempercayainya, tetapi sebuah foto yang bagus selalu menyampaikan sebuah cerita. Jika foto tersebut adalah foto seseorang, maka foto yang bagus adalah menceritakan siapa orang tersebut. Sebuah foto siswa selalu memotret bagaimana "tampang" siswa tersebut, dan jarang bercerita siapa sebenarnya anak tersebut.

5. Foto bagus adalah yang menceritakan sesuatu tentang kehidupan - Foto bagus adalah yang menceritakan sesuatu pada penikmat foto dan bukan hanya bagaimana suatu obyek tampak. Mereka memperlihatkan lebih dari sebuah subyek foto. Sebuah foto yang batus menceritakan tentang sesuatu tentang kehidupan itu sendiri. Foto tersebut bisa membuat seseorang berpikir. Sebuah foto kucing yang sedang bermain dengan untaian benang atau tali bisa memperlihatkan bagaimana kehidupan sebenarnya bisa menyenangkan dan kita bisa bermain jauh dari pemikiran negatif. Foto sebuah pegunungan tidak lagi menjadi menarik ketika penikmat foto hanya bisa melihat bebatuan. Dengan menyertakan jurang bisa memberikan cerita kehidupan bisa menjadi berbahaya. Gunakan foto kalian untuk menyampaikan hal-hal yang Sobat ketahui kebenenarannya dalah kehidupan.

Sumber http://www.infotografi.com

Dunia Fotografi



Tips Memotret Di Bawah Sinar Matahari Terang

Tips Fotografi - Sobat sedang memotret model bersama teman-teman di siang hari atau dibawah sinar matahari yang terang?. Beberapa dari sobat sekalian mungkin akan menganggap bahwa dengan banyak atau terangnya cahaya berarti akan menghasilkan foto yang hebat bukan?

A natural light portrait - outdoor portrait - Shima - IMGX0130


Hal yang terjadi bisa saja kebalikan! Terlalu banyak atau kuat cahaya tidak selalu berartimenghasilkan foto hebat. Bahkan ketika Sobat memotret portrait di bawah cahaya terang akan menghadapi beberapa masalah yang nyata.

Memotret di siang atau tengah hari maka berarti cahaya matahari datang langsung dari atas, dan ini akan membuat subyek berpotensi memiliki bayangan yang kuat di beberapa bagian wajah. Belum cukup disini, jika Sobat memotret seseorang dibawah sinar matahari yang kuat akan susah untuk terlihat natural, Subyek atau model foto kalian akan sering menyipitkan mata hanya karena silau terkena sinar matahari.

Jadi apa yang harus dilakukan?

Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan ketika mengambil foto portrait dibawah sinar matahari terang. Kami berusaha mengulasnya sesederhana mungkin agar mudah diaplikasikan di outdoor dan tidak perlu mengusung perangkat studio outdoor bersama dengan kalian.

1. Fill Flash

Sobat mungkin akan berpikir: Terasa aneh ketika menyalakan flash disiang hari, tetapi inilah salah satu waktu yang tepat untuk mempergunakan flash. Bayangan gelap yang ada di wajah subyek foto (biasanya ada di bagian bawah mata) ketika memotret disiang hari bisa dihilangkan dengan hanya menambahkan sedikit cahaya dari flash built ini kalian.

Kamera DSLR sekarang ini sudah banyak yang memilik fitur untuk mengontrol intensitas cahaya yang dikeluarkan oleh flash built-in, biasanya disebut dengan flash compensation. Sobat bisa menambah atau mengurangi setelah melakukan beberapa percobaaan jepretan sampai kalian mendapatkan hasil yang terasa natural.

Kabar baiknya dalam menggunakan flash atau fill flash adalah background sering kali berdampak background akan menjadi sedikit gelap. Hal ini bisa memberikan kesan Model sebagai Point of Interest menjadi semakin menonjol dibandingkan Background. Fill flash juga akan menciptakan kilau kecil dibagian mata subyek kalian.

Terkadang dengan menggunakan fill flash bisa memberikan kesempatan kita untuk memotret dengan posisi subyek/model membelakangi cahaya. Hal ini berarti wajah mereka tidak menghadap langsung cahaya matahari, tetapi subyek akan mendapatkan cahaya yang mengenai sekitaran rambut dan bahu, dan itu akan memberikan dampak yang bagus.

2. Memotret di teduhan/naungan

Cara mudah yang lain untuk menghilangkan bayangan yang tercipta di bagian wajah subyek adalah dengan memindahkan subyek (dan fotografer) ke bawah naungan bayangan besar dan memotret mereka di dalam naungan bayangan tersebut. Kuncinya adalah mencari tempat yang tidak gelap tetapi tetap memiliki cahaya yang terfilter yang bisa masuk. Hindari cahaya "belang-belang" dibawah pohon atau jika tidak maka Sobat kemungkinan besar akan mendapati separuh wajah terkena cahaya langsung sedangkan bagian lain terkover naungan dengan baik.

Jika sobat ingin membuat foto portrait dengan framing ketat di bagian wajah mungkin bisa menyiasati dengan bantuan seseorang yang memegang payung atau obyek lain sebagai naungan dibagian wajah tentu jangan sampai rekan kita itu masuk kedalam frame foto kita.

3. Gunakan Reflektor

Tips kali nomor Tiga ini tidak berarti Sobat harus selalu menyiapkan reflektor di dekat kalian, walaupun ada fotografer yang selalu membawa reflektor portable kecil di dalam tas kamera mereka. Jika Sobat tidak ingin repot membawa reflektor, kalian masih bisa menggunakan prinsip dasar bagaimana memantulkan sedikit cahaya ke arah wajah subyek guna membantu menerangi bagian wajah yang terkena bayangan.

Prinsipnya adalah setiap permukaan yang bewarna putih (atau terang) bisa berperan sebagai reflektor cahaya, dan jika diposisikan pada sudut yang tepat maka kalian bisa memanfaatkannya untuk memberi subyek/model sedikit cahaya ekstra.

Sobat bisa memposisikan subyek kalian dekat dinding putih atau memposisikan benda dengan permukaan putih disekeliling subyek untuk memantulkan cahaya ke area wajah. Beberapa fotografer lebih memilih menggunakan aluminium foil atau bahan styrofoam lebar sebagai reflektor.

Dunia Fotografi



Aperture dan Ketajaman Lensa

Teknik Fotografi - Fotografer pemula sering kali terkejut ketika menyadari bahwa lensa mahal yang baru mereka beli terasa tidak tajam di setiap pengaturan aperture. Jika sobat bertanya pada fotografer yang lebih berpengalaman dalam artian profesional, mereka akan menginformasikan bahwa ada perbedaan dalam hal ketajaman gambar di setiap aperture yang kita gunakan. Setiap lensa memiliki aperture optimal dimana dia akan bekerja dengan optimal, dengan kata lain kita menyebutnya dengan hasil yang tajam.


aperture priority



Aperture yang menghasilkan foto paling tajam atau biasa disebut dengan "Sweet Spot" sangat beragam dari lensa ke lensa, tetapi sebagai patokan, kebanyakan lensa memiliki "Sweet spot" ketika mereka diturunkan antara 2 atau 3 stop dari aperture maksimum. Sebagai contoh pada lensa yang memiliki aperture maksimum f/2.8 memiliki "sweet spot" di aperture f/8.0.


Lalu bagaimana Kita mengetahui "Sweet Spot" dari Lensa?

Sebenarnya ada satu cara yang sederhana dan menyenangkan untuk menguji lensa-lensa tersebut. Sobat hanya membutuhkan sebuah tripod dan koran. Untuk melakukan test atau pengujian ini yang harus kalian lakukan adalah dengan menempelkan selembar koran di tembok, dan pastikan mendapat cahaya yang cukup. Kedua, pasang kamera kalian di sebuah tripod, lihatlah pada waterpas di tripod untuk memastikan bahwa kamera dan dinding benar-benar sejajar. Ambillah serangkaian foto dengan exposure paling lebar hingga paling sempit dengan menurunkan satu stop tiap jepretan/frame (jangan lupa untuk melakukan perubahan pada shutter speed agar mendapatkan exposure yang pas serta konsisten.) Teruslah memotret sampai kalian telah mendapatkan satu exposure (foto) untuk setiap aperture.


Sobat kemudian bisa mendownload atau mentransfer foto-foto tersebut ke Personal Computer (PC), dan buka semua foto tersebut lalu bandingkan! Bandingkan hasil foto menggunakan metadata atau yang sering disebut dengan EXIF, untuk melihat berapa pengaturan aperture yang digunakan. Sobat jangan terkejut ketika melihat hasil perbandingannya, sering kali hasil ketajamannya berbeda di setiap aperture.

Selamat bereksperimen!

Sumber http://www.infotografi.com